Sunday, September 3, 2023

IDEOLOGI RAGE AGAINST THE MACHINE, LANTANG PROTES RASIALISME

RAGE AGAINST THE MACHINE





IDEOLOGI



Tak sedikit band-band yang menyuarakan kritik lewat karya musik, salah satunya adalah Rage Against The Machine (RATM). Band yang berdiri pada 1991 di Los Angeles, Amerika Serikat, ini dikenal dengan ideologi yang sama seperti band punk bawah tanah yaitu kritik berbau politik.
Mengambil aliran musik rap metal/rap rock, Rage Against The Machine dibentuk oleh Tom Morello yang merasa buntu dengan band lamanya, Lock Up. Ia kemudian menemukan de la Rocha yang saat itu menjadi frontman band hardcore, Inside Out. Keduanya kemudian sepakat membentuk band bersama Commerford dan Brad Wilk dengan nama Rage Against The Machine.

Dengan formasi de la Rocha (vokalis), Tom Morello (gitar), Tim Commerford (bass), dan Brad Wilk (drum), musik Rage Against The Machine dipengaruhi band-band seperti Minor Threat, Black Sabbath, Sex Pistols, Public Enemy, Run DMC, dan Cypress Hill. Nama mereka semakin dikenal karena memadukan musik hip hop, funk, heavy metal, dan dance musik.

Rage Against The Machine langsung mencuri perhatian publik ketika merilis demo berisikan 12 lagu. Adalah gambar sampul demo tersebut yang bikin mencuri perhatian karena menggunakan gambar Thich Quang Duc, seorang biksu asal Vietnam yang membakar dirinya di jalanan Saigon (sekarang Ho Chi Minh) pada 1963 sebagai bentuk protes kepada pemerintah.

Karya perdana Rage Against The Machine dijual tanpa label rekaman, namun mampu terjual hingga 5 ribu kopi. Suksesnya demo tersebut membawa Rage Against The Machine bergabung dengan Epic Records, label mainstream yang berinduk kepada Sony.

"Epic setuju dengan semua yang kami minta dan mereka mengikuti itu semua. Kami tidak pernah melihat ada konflik terkait ideologi kami selama kami bisa mengatasi masalah kreativitasnya," ujar Morello terkait keputusan Rage Against The Machine bergabung dengan major label.

Pada 1992, album pertama Rage Against The Machine rilis dengan nama band mereka. Album ini mendapat respons positif di pasaran dengan meraih triple platinum dan masuk Billboard Top 50 dan UK Top 20.

Rage Against The Machine mendapat berbagai pujian dari banyak pihak dan membawa mereka rutin bermain di konser-konser besar. Dari yang mulanya hanya bermain di gigs-gigs kecil, Rage Against The Machine bermain di festival musik macam Lollapalooza, Woodstock, hingga menjadi band pembuka di tur Public Enemy.

Dalam perjalanannya, Rage Against The Machine kerap diterpa isu bubar. Namun, mereka tetap mampu merilis album kedua pada 1996 dengan tajuk Evil Empire. Album kedua ini kembali mendapat kesuksesan dengan memuncaki Billboard Top 200 dan mendapat status triple platinum.

Aksi protes Rage Against The Machine kembali ditunjukkan ketika lagu Bulls on Parade dibawakan di acara Saturday Night Live pada April 1996. Mereka yang seharusnya membawakan dua lagu, dipotong menjadi satu lagu karena berusaha menggantungkan bendera Amerika Serikat secara terbalik sebagai bentuk protes kepada calon presiden dari Partai Republik, Steve Forbes, yang hadir sebagai tamu di acara tersebut.

Pada tahun 1999, Rage Against The Machine merilis album ketiga dengan nama The Battle of Los Angeles. Album teranyar mereka saat itu mendapat status double platinum dengan penjualan 450 ribu kopi dalam pekan pertama dilepas ke pasaran.

Di tengah karier yang semakin menanjak, Rage Against The Machine justru menemui akhir perjalanannya pada 2000. Akumulasi konflik internal hingga tuntutan label seperti tur dan konser disebut-sebut menjadi pemicu utama bubarnya Rage Against The Machine.

Konflik yang paling ramai terjadi pada ajang MTV Video Music Awards 2000 di New York. Acara yang awalnya berjalan lancar tiba-tiba menjadi kacau ketika pemenang kategori Video Rock Terbaik dibacakan yaitu Limp Bizkit.

Bassist Rage Against The Machine, Tim Commerford, tiba-tiba naik ke atas panggung sebagai bentuk penolakan atas keputusan ini. Aksi tersebut menyebabkan acara terhenti hingga akhirnya pihak keamanan menurunkan Commerford dan membawanya ke luar gedung acara.

Dampak dari aksi Commerford tidak main-main, satu bulan setelah insiden itu Zack de la Rocha memutuskan keluar dari band. Ia mengaku malu melihat perangai kawannya tersebut.

"Saya merasa harus meninggalkan Rage Against The Machine sekarang karena proses pengambilan keputusan kami telah gagal total. Tidak lagi memenuhi aspirasi kami berempat secara kolektif sebagai sebuah band dan dari sudut pandang saya, telah merusak cita-cita artistik dan politik kami," ujar La Rocha dalam pernyataannya saat itu.

"Saya sangat bangga dengan pekerjaan kami, baik sebagai aktivis maupun pemusik. Dan saya juga berhutang budi serta mengucapkan terima kasih kepada setiap orang yang telah menyatakan solidaritas dan berbagi pengalaman luar biasa ini bersama kami.”

Meski akhirnya ditinggalkan sang vokalis, Rage Against The Machine masih merilis album keempat mereka pada Desember 2000 bertajuk Renegades. Tak berselang lama setelah album ini dilepas, tiga personel dari Rage Against The Machine membentuk band baru bernama Audioslave.


Sikap Politik Rage Against The Machine


Munculnya sikap politik dari Rage Against The Machine berakar dari pengalaman Morello dan de la Rocha yang tumbuh dalam belenggu rasialisme di masa kecil.

Motivasi mereka berdua untuk menyuarakan masalah-masalah yang dihadapi masyarakat Amerika Serikat seperti rasialisme, kapitalisme, kesenjangan sosial, hingga kekerasan kepada minoritas dituangkan dalam karya Rage Against The Machine.

Muncul lagu-lagu bermuatan poltik dari Rage Against The Machine seperti Know Your Enermy, Take the Power Back, lalu Maria, serta Killing the Name yang menjadi lagu untuk protes dengan salah satu liriknya berbunyi 'Fuck you, I won't do what you tell me."

Meski akhirnya bubar, api perlawanan Rage Against The Machine tetap menyala. Morello, Commerford, dan Wilk membentuk Audioslave, sementara de la Rocha sempat membentuk One Day as a Lion bersama Mars Volta dan Jon Theodore..

Wujud dari perlawanan yang belum usai itu pun dibuktikan dengan kembalinya para personel untuk melakukan konser reuni Rage Against The Machine pada 2007 hingga 2011. Kemudian pada Februari 2020, Rage Against The Machine mengumumkan akan melakukan tur reuni dengan tajuk Public Service Announcement Tour.

Konser ini awalnya direncanakan berlangsung pada 26 Maret hingga 12 September 2020. Namun, pandemi COVID-19 membuat rencana penampilan reuni full team Rage Against The Machine harus ditunda ke musim panas 2021 dengan waktu yang belum dipastikan.
Kembalinya Zack de La Rocha




RATM hidup lagi! Audioslave bubar. Pada 29 April 2007, Zack de la Rocha Kembali tampil dalam acara Coachella, di California dan membawakan kembali lagu-lagu lama mereka. Meski begitu belum jelas apakah mereka akan mengeluarkan album.



Daftar Album/lagu


Dari Album 



Pistol Grip Pump
Kick Out the Jams
Renegades of Funk
Beautiful World
I'm Housin
In My Eyes
How I Could Just Kill A Man
The Ghost of Tom Joad
Down On the Street
Street Fighting Man
Maggie's Farm






Dari Album THE BATTLE OF LOS ANGELESTestify

Guerrilla Radio
Calm Like A Bomb
Mic Check
Sleep Now In The Fire
Born Of A Broken Man
Born As Ghosts
Maria
Voice Of The Voiceless
New Millenium Homes
Ashes In The Fall
War Within A Breath

Monday, August 28, 2023

BERKEMBANGNYA SKENA HIP HOP JOGJA

 HIP HOP DI JOGJAKARTA




Sejarah


1520 Sedwick Avenue adalah sebuah kawasan di New York yang diklaim sebagai tempat awal lahirnya komunitas hip-hop. “Di sinilah kami berasal”, cetus DJ Kool Herc, seorang yang merelakan lantai satu di rumahnya dijadikan sebuah markas untuk berkumpul. “Kebudayaan Hip Hop berawal dan lahir disini, yang nantinya akan tersebar di seluruh dunia, di sinilah kami barasal karena memang kami tidak memiliki tempat lain untuk bertemu, bukan di tempat lain” ujarnya.

DJ Kool Herc yang memperkenalkan turntabel pada saat itu di sebuah pesta pada tahun 1973. Pada awal penampilannya, dia membawakan lagu-lagu dari James Brown, Jimmy Castor, dan Babe Rooth. Kool Herc yang kemudian menciptakan scratch dan bunyi-bunyian aneh yang menimbulkan sebuah sensasi yang luar biasa pada saat itu.[5]

Hip-hop terasa kurang lengkap tanpa MC. Celah inilah yang dilihat oleh Melle Mel, MC pertama pada dunia Hip Hop. Pada awalnya Melle Mel merasa bingung apa yang akan diucapkannya pada penampilan pertamanya tersebut, tetapi karena dirinya telah dipenuhi kebosanan dengan peraturan-peraturan dari pemerintah yang mengekang, akhirnya Melle Mel mengeluarkan rasa bencinya pada pemerintah dan pandangannya tentang kehidupan lewat lirik-liriknya. Mulai saat itulah musik hip hop lebih banyak menceritakan tentang kehidupan di sekitar masyarakat kulit hitam dan teriakan-teriakan serta protes suara hati mereka kepada pemerintahan yang berlaku tidak adil. Lirik musik hip hop cenderung keras dan tegas.

Hip hop sebagai kebudayaan dari suek diperjelas lagi pada tahun 1983 oleh Black Spades yang merupakan anggota dari Afrika Bambaataa and The Soulsonic Force lewat lagu yang berjudul “Planet Rock”. Lagu ini merupakan sebuah musik hip hop yang menarik karena memiliki perpaduan antara rap yang sederhana dan irama musik disko yang diciptakan melalui drum elektronik dan penyintesis. Pada tahun 1985 barulah dengan teknologi stereo, Run DMC, LL Cool J, The Fat Boys, Herbie Hancock, Soulsonic Force, Jazzy Jaz, dan Stetsasonic yang mengeluarkan album-album andalannya sehingga menjadi legenda musik hip hop hingga saat ini.





Perkembangan



Awal pertumbuhan Hip Hop dimulai dari The Bronx di kota New York kemudian terus berkembang dengan pesat hingga ke seluruh dunia. Hip Hop pertama kali diperkenalkan oleh seorang Afro-Amerika, Grandmaster Flash dan The Furious Five. Awalnya musik Hip Hop hanya diberi inti dengan musik dari Disk Jockey dengan membuat variasi dari putaran disk sampai menghasilkan bunyi-bunyi yang unik. "Rapping" akhir hadir untuk mengisi vokal dari bunyi-bunyi tersebut. Sedangkan untuk koreografinya, musik tersebut diberi inti dengan tarian patah-patah yang dikenal dengan breakdance. Pada perkembangannya, Hip Hop juga diasumsikan sebagai bagian dari seni dan untuk mengekspresikan seni visual munculah Grafiti sebagai bagaian dari budaya Hip Hop.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perkembangan musik rap di Yogyakarta, mengetahui proses peleburan budaya Jawa dengan budaya Hip-Hop, dan mengetahui pelaku Hip-Hop Yogyakarta dalam perkembangannya pada tahun 1993-2011. Penelitian ini memakai metode penelitian sejarah, dengan lima tahapan dalam prosesnya yaitu pemilihan topik, pengumpulan sumber, verifikasi, interpretasi, dan heuristik. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa musik rap dinyanyikan pertama kali di Yogyakarta oleh grup rap bernama G-Tribe yang dipelopori oleh Ki Ageng Gantas pada tahun 1993, pada tahun 1995 G-Tribe menjadi ssatu-satunya rapper dari Yogyakarta yang masuk dalam sebuah album kompilasi musik rap seluruh Indonesia. Kemudian pada akhir tahun 90-an muncul grup rap yang namanya cukup besar di kalangan pecinta Hip-Hop Yogyakarta pada saat itu, yaitu Jahanam yang beranggotakan dua orang yaitu Mamox dan Balance. Hingga pada akhirnya pada tahun 2001 muncul sorang pegiat seni yang menaungi seluruh pelaku Hip-Hop di Yogyakarta yang bernama Marzuki Mohammad dengan membuat komunitas bernama Jogja Hip-Hop Foundation. Marzuki Mohammad membawa banyak perubahan dalam skena Hip-Hop Yogyakarta, salah satunya adalah menggabungkan unsur-unsur budaya Jawa dalam musik rap, acara pertama yang dibuat oleh Marzuki Mohammad dalam menyatukan kebudayaan lokal dengan musik rap adalah Poetri Battle, yang merupakan konser musik rap dengan lirik karya puisi lama hingga kontemporer. Dari acara tersebut kemudian musik rap yang dibawakan oleh JHF setelah itu lebih ke menekankan pada unsur-unsur Jawa, salah satu alasan mereka yang mendasar adalah sebagai identitas bahwa mereka merupakan orang Yogyakarta. Tahun 2011 lagu Jogja Istimewa dirilis dan mendapat banyak respon dari dalam maupun luar negeri.



Subgenre


Rapcore

Run DMC sempat berkolaborasi dengan grup musik hard rock Aerosmith pada lagu “Walk This Way”. Kolaborasi ini benar-benar sukses dan duduk di nomor satu rapsong hit di tangga lagu Billboard Hot 100. Selain Run DMC, pada tahun 1987 Beastie Boys juga sukses dengan rap core-nya dengan hits “Licensed to Ill” yang di produseri oleh Def Jam Records

Electro

Musik yang satu ini memang sedang naik-naiknya pada saat ini, dan tidak ada yang tahu bahwa ternyata Electro juga merupakan bagian dari musik Hip Hop. Run DMC menjadi pencetus pada aliran yang satu ini. “Planet Rock” dari Afrika Bambaataa menjadi target Run DMC untuk disisipi irama Eelctro ini dan ternyata sangat sukses di pasaran



Hardcore Hip Hop

Pada tahun 1990’an, musik dari New York dan East Coast menjadi musik yang sangat keras dan gelap, sesuai dengan kehidupan yang terjadi di sana. Artis dari tahun 80’an akhir seperti EPMD dan Eric B serta Rakim menjadi salah satu pendiri dari musik dengan irama yang keras ini. Selain dua nama tersebut, Public Enemy beserta pasukannya The Bomb Squad juga tidak mau kalah untuk menyuarakan kreativitas mereka dengan nuansa kriminal di setiap lirik-lirik lagu mereka. Wu-Tang Clan merilis album mereka pada tahun 1993 “Enter the Wu-Tang (36 Chambers)”, dan albumnya merupakan sebuah gebrakan pada tahun tersebut, khususnya di genre musik Hardcore Hip Hop




Hip Hop di Indonesia

Di Indonesia musik hip hop umumnya diperkenalkan pertama kali di indonesia oleh Benyamin Sueb dan Farid Hardja, jauh sebelum kita mengenal Iwa-K (Iwa Kusuma)z, ternyata mereka berdua lebih dulu mengenalkan hip hop, baru setelah itu disusul oleh Iwa K seorang musisi yang luar biasa dan masih eksis sampai saat ini, juga dikenal sampai saat ini sebagai legen hip hop. Di Indonesia, Iwa K sangatlah populer dengan musik rap. Pada era 80-an, saat anak muda dilanda musik rock, Iwa sudah mulai bergelut dengan musik rap, sebuah genre musik yang lebih menekankan pada teknik berceloteh, dibanding instrumen musik. Kecintaannya pada musik asal Amerika Serikat ini bermula dari kesenangannya bermain breakdance






HELL HOUSE

Hellhouse Indo merupakan komunitas musik Hip Hop yang telah ada di Yogyakarta sejak 2007 hingga kini. Perjalanan selama kurang lebih selama lima belas tahun dalam ruang Yogyakarta yang sarat akan budaya menarik untuk dikaji secara mendalam. Bagaimana sebuah komunitas bergenre Hip Hop yang notabene bukan berasal dari budaya setempat mampu bertahan dan membentuk komunitas yang solid. Tidak hanya itu Hellhouse Indo ternyata juga mengembangkan kegiatannya pada wilayah industri musik dengan menaungi beberapa artis Hip Hop dalam label agensi nya. Hal ini menjadi fokus yang akan dibahas dalam tulisan ini. Dengan metode penelitian etnografi, tulisan ini akan mendeskripsikan secara mendalam perjalanan Hellhouse Indo sebagai komunitas musik Hip Hop sampai menjadi Indie Label Agency yang tidak dapat terlepas dari ideologi serta skena industri musik populer di Indonesia.

Di Yogyakarta musik dan culture hip hop sangat berkembang pesat, dan Hellhouse adalah nama komunitas yang terbesar di kota ini. Genre musik yang berasal dari barat ini bisa dikatakan dan dirasakan cukup mendominasi dan menjadi trend anak muda di Yogyakarta. Cara berpakaian dan lifestyle generasi muda saat ini dapat menjadi bukti bahwa musik Hip Hop menjadi jenis musik yang cukup diminati.


Karena proses akulturasi, musik Hip Hop yang semulanya berbahasa Inggris, kemudian mulai menggunakan bahasa Indonesia, bahkan menggunakan bahasa daerah. Di balik lagu-lagu karya sendiri tersebut terdapat banyak pesan-pesan moral yang sudah diakui, dan bisa dengan lebih mudah dikomunikasikan kepada masyarakat. Secara budaya, musik Hip Hop bisa menjadi sarana yang sangat baik untuk mengajarkan nilai-nilai budaya lokal kepada masyarakat.

Komunitas Hellhouse dibentuk tahun 2007 lalu oleh sesama penggemar hip hop. Awalnya hanyalah sebagai naungan untuk memproduksi merchendise, musik, dan setelah menguat, mereka pun acapkali mengaadakan event secara rutin. Hellhouse juga sebagai wahana bertemunya para rapper, produser, beat maker, Dj, dan bomber (grafiti).

Hingga kini anggota komunitas ini tercatat ada 50 lebih anggota yang bergabung. Untuk grup di antaranya terdapat nama-nama seperti, Kontra, DPMB, Begundal Clan, Elpacino, Soul 2 Playa, Zapa, Mlethod Man, dan lainnya. Sedangkan nama-nama beat maker di antaranya Dj Anto Gantaz (Rotra), Balance Jahanam, lacos, Rob Mili, Dj Holza, Donnero, dan Dj Katerachy




Menurut Alex aka Donnero pegiat komunitas ini, Hellhouse juga semacam pergerakan yang menjadi motivasi scene hip hop Yogyakarta dan kota lainnya untuk memberikan standart kualitas baru ke depannya.


“Di Jogja yang senior tidak pelit ilmu pada yang baru-baru,” ujar cowok yang menggeluti hip hop sejak 2003 ini.


Bagi cowok bernama asli Alexander Sinaga ini, hip hop bukan sekedar genre musik, dan fashion, namun telah menjadi ideologi dan lifestyle luar dalam. “Mau ngapa-ngapain pasti ada hubungannya dengan hip hop,” ungkap rapper yang juga bekerja sebagai audio editor di sebuah Production House di Yogya ini



Kampung Wijilan, Yogyakarta, menjadi kancah hip hop mengasyikkan berkat kiprah komunitas Hellhouse. Polemik dengan polisi berujung pada dihapusnya atribut Hellhouse, membuat komunitas itu makin penting kita dukung.


Hip Hop lokal, menurut saya, belum pernah semenggairahkan lima tahun belakangan. Tentu ada banyak faktor yang memicunya. Mayoritas mungkin berpatokan pada meroketnya popularitas Rich Brian di kancah musik Amerika Serikat dan Eropa, sebagai alasan utama hip hop lokal terasa menarik. Beberapa rekan lain lebih gembira lantaran geliat generasi baru MC dan beatmaker yang menyeruak berkat karya-karya fenomenal. Bakat-bakat muda ini tak ragu mengangkat sisi estetika dan teknik dari musik dan lirik rap berbahasa lokal ke level selanjutnya.





Hellhouse Adalah Komunitas Dalam Arti Sesungguhnya


Ini alasan kedua. Hellhouse lebih dari sekedar musik. Jika kebanyakan ‘komunitas hip hop’ hari ini sinonim dengan sekumpulan orang yang berlokasi berjauhan terhubung oleh internet, Hellhouse merupakan komunitas dalam artian yang paling literal.

Hip Hop Indonesia
Papua, Bandung, dan BKT Menempa Joe Million Jadi Rapper Buas
YUDHISTIRA AGATO


Hellhouse adalah tongkrongan di mana para pegiatnya berinteraksi dan bertemu muka hampir setiap hari di satu tempat. Yogyakarta selalu menjadi tempat nomor satu bila bicara soal populasi hiphopheads. Selain faktor kota yang tak begitu besar dan guyub, nampaknya faktor ini pula yang memungkinkan Hellhouse menjadi sebuah sebuah kumpulan intim, sekaligus membuat mereka berhasil mengakar bersama masyarakat sekitar.


Bila kalian selama ini menganggap hip hop adalah musik teralienasi yang hanya hidup di klub-klub, silakan datang ke jalan Wijilan. Mungkin saja kalian sedang beruntung menemukan mereka sedang menggarap gig angkringan, melapak produk mereka, mengajari pemuda lokal teknik graffiti, atau bahkan mengorganisir workshop beat dan rima bagi anak-anak kecil seperti yang mereka lakukan Maret lalu. Yang terakhir saya sebut merupakan sebuah keistimewaan tersendiri, karena di akhir workshop mereka membuat sebuah acara dengan panggung memblokade jalan, lantas membawa anak-anak kecil tadi manggung membawakan materi hasil workshop mereka. Itu semua perlu ditambahkan catatan penting (yang cukup langka hari ini), bahwa Hellhouse melakukan semuanya mandiri. Tak ada sponsor rokok atau keterlibatan korporasi pada prosesnya.



IDEOLOGI RAGE AGAINST THE MACHINE, LANTANG PROTES RASIALISME

RAGE AGAINST THE MACHINE IDEOLOGI Tak sedikit band-band yang menyuarakan kritik lewat karya musik, salah satunya adalah Rage Against The Mac...